skip to Main Content
Tips Menyapih Anak Yang Aman Dan Efektif

Tips Menyapih Anak yang Aman dan Efektif

Tips menyapih – Memberikan ASI eksklusif pada anak adalah kebahagiaan tak tertara yang dirasakan seorang ibu. ASI memenuhi kebutuhan nutrisi anak di awal tumbuh kembangnya. Pemberian ASI bukan hanya sebatas hubungan fisik antara ibu dan anak namun juga mendekatkan ikatan emosional keduanya. Namun ada saatnya ibu harus menyadari bahwa pada usia tertentu anak harus berhenti menyusui. Memang tidak semudah yang dibayangkan, perlu ketelatenan dan serta hati yang siap. Ibu harus mengajarkan anak untuk mendapatkan nutrisi dari sumber makanan lain yang tidak cukup didapatkan dari ASI.

Penghentian memberikan ASI pada anak disebut dengan menyapih. Menyapih anak dapat menjadi hal yang susah-susah gampang, baik bagi ibu atau anak. Ibu merasa kasihan pada anak dan merasa ikatan emosional akan berkurang dan merenggang jika tidak ada kontak fisik dengan anak. Sementara anak akan merasa kasih sayang dari ibu berkurang dengan adanya penolakan untuk menyusui. Jika tidak ditangani dengan tepat, menyapih dapat menyebabkan trauma pada keduanya. Maka dari itu agar tujuan menyapih sesuai dengan harapan, ibu harus mencari cara yang aman dan efektif. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dicoba ibu jika memiliki kesulitan menyapih anak.

Rencanakan dengan baik dan tepat sejak awal

Ibu tidak dapat menyapih anak dengan terburu-buru atau tanpa rencana. Semenjak hamil, tentu ibu memikirkan rencana-rencana ke depan untuk anak ketika bayi berusia sekian bulan, sekian tahun dan seterusnya. Jadikanlah menyapih salah satu rencana ibu agar sejak awal ibu sudah siap berkomitmen. Perencanaan waktu menyapih akan membantu ibu dan anak beradaptasi dengan perubahan. Cari tahu bagaimana cara menyapih yang baik dan tepat agar ibu siap secara emosional dan tentukan usia maksimal anak ketika ingin disapih. Dengan cara yang baik dan tepat, ibu akan merasa ikhlas dan tegas pada diri sendiri untuk berhenti menyusui dan anak akan dapat beradaptasi dan menerima untuk disapih tanpa adanya trauma atau perasaannya tersakiti.

Ibu dapat memperhatikan contoh perencanaan penyapihan anak berikut. Ibu menargetkan 2 tahun adalah usia maksimal anak masih dapat menyusu. Ketika anak berusia 0-6 bulan, ibu memberikan ASI eksklusif. Setelah anak masuk usia 6 bulan, artinya ia sudah dapat menerima makanan selain ASI namun ini bukan usia dimana anak lepas dari ASI begitu saja. Tetap berikan ASI seperti biasa. Pada usia 12-18 bulan, kenalkan anak pada beragam jenis makanan dan kenali makanan yang disukai anak. Kurangi frekuensi menyusui dan perbanyak memberikan makanan padat. Ketika berusia 24 bulan, ibu dapat melepaskan anak dari ASI secara alami dan berikan pengertian pada anak dengan kasih sayang.

Ketahuilah waktu yang paling tepat untuk menyapih anak

Merencanakan waktu menyapih anak adalah langkah pertama yang dapat dilakukan oleh ibu, namun anak memiliki waktu yang berbeda dalam kesiapan menerima bahwa ia tidak dapat lagi menyusu pada ibunya. Pemberian ASI eksklusif diberikan pada 6 bulan pertama, selanjutnya anak sudah mulai dapat diberikan makanan pendamping. Umumnya bayi disapih pada saat berumur 2 tahun, namun hal tersebut masing-masing tergantung kepada ibu dan anak. Beberapa ahli menyatakan bahwa anak juga menunjukan tanda-tanda ketika dapat mulai disapih, contohnya ketika sudah dapat duduk dengan kepala tegak dalam waktu lama, mata, mulut dan tangan telah terkoordinasi dengan baik sehingga anak dapat mengambil dan memasukan makanan sendiri ke mulut.

Kenali tanda-tanda anak siap disapih

Seiring bertambahnya usia, anak akan menunjukan ketertarikan yang berbeda pada saat menyusui. Jika pada saat masih bayi anak tidak dapat menolak saat diajak menyusui, ada saatnya anak akan menolak untuk menyusui. Terkadang anak meminta menyusu, namun setelah mengisap puting payudara beberapa kali saja kemudian berhenti. Anak juga mungkin lebih tertarik dengan lingkungan sekitar dan perhatiannya pun menjadi teralihkan sehingga ia ingin turun dari pangkuan atau berbuat usil untuk melepaskan diri. Anak juga mulai menunjukan ketertarikan minum dari cangkir. Anak yang sudah memiliki gigi terkadang akan berusaha menggigit dan hal ini akan menyakiti ibu. Hal-hal tersebut memang tidak dapat dijadikan patokan standar, namun dapat menjadi kemungkinan tanda-tanda umum anak yang sudah mulai siap disapih.

Mulai kurangi frekuensi menyusui secara bertahap

Ibu dan anak memang akan kehilangan momen indah ketika menyusui, namun anak harus tetap diajarkan mandiri. Mulailah penyapihan perlahan-lahan karena kuantitas ASI pun akan berkurang secara perlahan ketika anak sudah mulai jarang menyusui. Pengurangan ini penting untuk mengurangi risiko payudara bengkak dan nyeri ketika dilakukan secara terburu-buru. Jika ibu memiliki jadwal menyusui 3x sehari pagi, siang dan malam, kurangi menjadi 2x sehari pada pagi dan malam saja. Ibu juga dapat mengurangi durasi menyusui, contohnya jika biasanya menyusui selama 15 menit, cobalah menyusui selama 7-10 menit saja. Anak mungkin akan protes dan rewel, namun tetaplah berpegang pada komitmen perencanaan penyapihan ibu.

Ketahui makanan favoritnya dan buat anak merasa kenyang

Usia 6 bulan adalah masa dimana anak sudah dapat dikenalkan berbagai jenis makanan, baik itu dari segi tekstur dan rasa seperti sayuran hijau, buah-buahan, dan daging. Gunakanlah kesempatan ini untuk mengetahui makanan apa yang disukai anak. Ini bukan berarti ibu hanya memberikan yang disukai anak saja, namun ibu juga harus cerdas mempersiapkan makanan tersebut dengan nutrisi yang diperlukan oleh anak. Sebaiknya makanan pun dibuat oleh ibu sendiri agar terjamin kebersihannya. Hindari ajakan anak jika ingin menyusu, alih-alih menurutinya berikan ia camilan sehat yang disukainya. Ibu dapat memberikan camilan tersebut sebagai hadiah atas pengertiannya untuk tidak meminta ASI. Jika telah masuk jam menyusui, ada baiknya ibu memberi makanan padat terlebih dahulu sehingga anak menjadi kenyang dan tidak tertarik untuk menyusu.

Ajak anak makan bersama

Makan bersama dapat dijadikan pengalihan perhatian dari kegiatan menyusui. Kebiasaan ini dapat Anda lakukan ketika anak mulai menginjak umur 1 tahun. Selain mengajarkan anak untuk makan, ibu juga mengajarkan anak untuk bersosialisai dengan anggota keluarga. Anak juga akan mengenal lebih banyak benda baru seperti piring, gelas, sendok, garpu dan lain-lain. Benda-benda ini akan memercik rasa penasarannya dan membuatnya lupa tentang ASI. Keinginan anak untuk meniru orang sekitarnya untuk makan akan membantu ibu untuk menyapih anak. Ajaklah orang di sekitar untuk memuji tindakan anak untuk makan sendiri, walaupun ia makan dengan berantakan. Lakukan kebiasaan ini secara berulang-ulang.

Kesimpulan

Menyapih terkadang memang menjadi tantangan bagi ibu dan anak, namun ibu harus menguatkan hati karena menyapih butuh waktu dan kesabaran ekstra. Anak memang akan rewel dan menangis, tapi sebaiknya ibu mencari alternatif lain untuk menenangkan anak dan jangan jadikan ASI sebagai tawaran agar anak mau diam. Ini hanya akan menggagalkan perencanaan dan komitmen ibu. Ibu juga harus menghindari cara-cara yang dapat membuat anak trauma seperti mengoleskan sesuatu yang pahit, pedas, atau membungkus puting dengan plester. Lakukanlah dengan sabar, lemah lembut dan penuh kasih sayang agar tidak melukai hati anak. Anak yang sehat dan ceria adalah cerminan dari ibu yang bahagia. Sekian, selamat mencoba!

 

Adi Pramono

Web developer Bali, Indonesia. My name is Adi Pramono, a fulltime WordPress web developer based in Bali, Indonesia. I am originally come from Palangkaraya, Borneo Island, Indonesia. I believe that website is important in today’s world and a basic need for future businesses. Mail me if you need someone for your web project: info@adipramono.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top